Welcome to our site

welcome text --- Nam sed nisl justo. Duis ornare nulla at lectus varius sodales quis non eros. Proin sollicitudin tincidunt augue eu pharetra. Nulla nec magna mi, eget volutpat augue. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Integer tincidunt iaculis risus, non placerat arcu molestie in.

Novero

Rabu, 02 Maret 2011


Upacara novero (upacara pengobatan apabila sang ibu yang hamil kurang sehat) atau moragi ose adalah suatu upacara pengobatan yang bila ibu hamil kurang sehat dan lemah, yang dianggap sebagai gangguan mahluk halus yang jahat. Upacara ini dapat juga dilaksanakan bagi ibu yang tidak hamil, namun ada perbedaan-perbedaan yang tidak berarti.
Maksud Penyelenggaraan Upacara
Novero (mengobati penyakit) atau moragi ose (memberi warna warni beras) bertujuan untuk menyembuhkan ibu hamil dari penyakit yang dideritanya karena nilindo nuviata (diganggu mahluk halus).
Waktu Penyelenggaraan Upacara
Upacara ini sering dilaksanakan serentak dengan upacara nolama, yaitu bila ibu hamil kelihatannya kurang sehat. Perbedaannya ialah nolama lebih dekat kepada pemujaan arwah nenek moyang, sedangkan novero lebih berorientasi kepada mahluk-mahluk halus yang dianggap jahat.
Tempat Penyelenggaraan Upacara
Tempat upacara diadakan di luar rumah, di tempat yang dipercayai sebagai tempat hunian mahluk halus, seperti di tepi sungai, tepi pantai, di pohon-polion besar, dan sebagainya. Dan di sini pula dibuat suampela, sebuah tempat penyimpangan sesajian yang dibuat dari kayu bertiang tiga. Pada bagian atas dibuat sebuah anyaman dari ranting kayu atau bambu tempat sesajian itu disimpan, dan kulili (kayu yang dibuat seperti model parang, yang diberi warna belang hitam putih). Ketiganya (suampela, kulili, dan berbagai jenis makanan) merupakan perlengkapan upacara novero tersebut termasuk ose ragi (beras yang telah diberi warna-warni) seperti disebutkan di atas.
Penyelenggara Teknis Upacara
Yang berperan dalam upacara ini ialah seorang dukun wanita sejak awal sampai dengan upacara ini selesai. Pihak-pihak lain yang terlibat terbatas dalam lingkungan keluarga terdekat saja, yang mempersiapkan perlengkapan upacara adat lainnya.
Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Perlengkapan-perlengkapan selain yang telah disebutkan di atas ialah membuat pekaolu nuvayo (tempat berlindungnya bayangan), maksudnya tempat roh kita berlindung bila mendapat gangguan mahluk halus. Juga perlengkapan yang disebut toge, yang dibuat semacam janur dari daun kelapa seperti bentuk tombak, kepala kuda yang berkepala dua dan berkepala sebelah dan lain-lain. Pada bagian bawah janur tersebut bersusun 4-5 dan yang terakhir inilah yang disebut pekaolu nuvayo. Perlengkapan lainnya ialah tuvu mbuli seperti yang telah disebutkan terdahulu.
Di dalam rumah disiapkan mbara-mbara (barang perhiasan/pakaian adat) yaitu vuya (sarung), baju, dan bulava (emas). Ketiganya disimpan di atas dula palangga (dulang berkaki).
Jalannya Upacara
  • Membuat persiapan-persiapan seperti yang telah disebutkan di atas, yang dilaksanakan bersama dukun dan keluarga di rumah ibu yang hamil, termasuk moragi ose (memberi macam warna beras sesajian).
  • Mengambil banja mpangana (mayang pinang) lalu direndam dalam air 3 malam dicampur dengan daun-daun yang wangi seperti bunga mbalu, daun pandang, tamadi, tulasi, dan sebagainya. Baru ose ragi tersebut dibungkus dengan kain putih, disimpan di tiang tengah rumah di mana ibu hamil itu akan tidur di dekat barang-barang tersebut.
  • Tiap bangun pagi selama tiga hari ibu hamil makan makanan yang disiapkan dalam bambu dengan sebiji telur rebus dan mencuci muka dengan air yang disiapkan dan diberi bahan-bahan yang wangi tersebut.
  • Kegiatan selanjutnya ialah membuat suampela tempat sesajian itu disimpan, melalui suatu cara-cara tertentu dan dengan gane-gane (mantera). Pada ketiga diadakan upacara mandi bagi ibu hamil tersebut dengan air wangi yang direndam dengan daun-daun wangi tersebut di atas. Seusai mandi sebatang mayang pinang yang belum berkembang, dipecahkan di atas kepala. Benda tersebut dianggap memberikan kekuatan untuk tubuh, sambil memecahkan sebatang mayang pinang yang masih belum berkembang tersebut, dukun berkata : “niratamo sumangana dako ripue ngayu, ripue ntana” (sudah diketemukan kembali semangatnya dari penghuni pohon kayu dan penghuni bumi).
  • Selanjutnya adalah nantau (membawa turun) seluruh bahan-bahan perlengkapan tersebut di atas ke tanah dan ke tempat upacara di mana suampela tersebut dibuat. Di tempat sesajian itu dukun nogane memanggil arwah dan roh-roh halus dan berkata : “Seimo konisa miu, tavala miu, toge ante kalili miu. Aku mompatolo yanu (si anu), bekaka maimo vayona, rapakalompemo yanu” (Telah kupersembahkan kepadamu makanan, tombak, toge, kulili. Aku menolong si Anu (menyebut nama). Berikan kepadanya kembali sumber kekuatan hidup, sembuhkanlah ia dari penyakit).
Selanjutnya diadakan acara noronde (dialog dukun dengan orang-orang yang ada dalam rumah). Dialog tersebut terjadi sebagai berikut:
Dukun : “Nolompemo yanu!!” (Si Anu sudah sembuh).
Orang di rumah menjawab : “Yo nalompemo” (Ya sudah), eva apu nitulaka uve (seperti api kena air), eva kuni niboli toila (seperti kunyit diberi kapur).
Dukun naik ke rumah sambil berkata kepada ibu hamil: “niratakumo vayo miu, naialaku riviata, rikarampua, rirate njae, rirate vou” (saya sudah menemukan sumber kekuatan hidup yang hilang dari viata (setan/jembalang) dari para dewa dan roh-roh nenek moyang yang telah lama dan baru meninggal).
Acara terahir ialah noave ose niragi, bila ibu telah melahirkan dengan selamat, maka ose niragi (beras 4 warna) yang disebutkan di atas valas suji (semacam rakit kecil). Noave (mengalirkan) barang tersebut mengandung arti nompakatu (mengirimkan sesajian) tersebut kepada pue ntasi (penghuni laut) diiringi pula dengan mantera-mantera yang isinya minta segera ibu hamil yang sakit segera sembuh, dan karena penyakit sudah terbawa ke laut, pergi bersama penyakit.
Dengan selesainya acara ini, selesailah upacara novero tersebut bagi seorang ibu hamil yang kurang sehat.
Pantangan-pantangan yang Dihindari
Dalam upacara adat nolama, hampir tidak ada pantangan yang berarti, tetapi selama ibu hamil dijumpai sejumlah pantangan-pantangan. Pantangan tersebut tidak saja berlaku untuk sang ibu yang hamil, tetapi juga berlaku bagi sang suami. Pantangan-pantangan bagi ibu hamil tersebut antara lain:
  1. Duduk di muka pintu atau pada anak tangga (mungkin suatu upaya preventif).
  2. Pantang minum air terlalu banyak karena bila melahirkan terlalu banyak air dan atau beranak kembar.
  3. Pantang makan gula merah atau tebu serta nenas karena dapat membuat perut sakit.
  4. Pantang mencela, mengejek orang-orang yang cacat jasmani karena dapat melahirkan bayi yang cacat.
  5. Pantang mengurai rambut pada sore hari karena dapat di ganggu mahluk halus.
  6. Pantang makan ikan cumi-eumi karena dapat melahirkan bayi dalam bentuk cumi-cumi dan sebagainya.
  7. Pantang duduk di sembarang tempat.
  8. Tidak boleh kikir (nemo masina), agar sifat/watak anaknya tidak seperti itu.
  9. Tidak boleh menggulung handuk di leher (moveve handuri tambolo), agar bayi bakal lahir tidak tercekik pada bagian lehernya.
  10. Tidak boleh melicinkan tempurung (mo gau bobo/banga), agar rambut anak tidak akan botak.
  11. Pantang mandi pada sore hari, dapat membuat kelamin bengkok karena ilirasi pue nu tive (disetubuli oleh hantu penghuni air) atau mandi dipagi buta karena bayi kedinginan dan lahir dalam keadaan lemah
Pantangan bagi sang suami adalah:
  1. Menyembelih atau membunuh binatang karena dapat mengakibatkan bayi nantolu moro (kemarahan)
  2. Pantang memakai celana bila istri dalam keadaan melahirkan
  3. Pantang menginjak papan penutup liang lahat (dindi ngari) sebab dapat membuat bayi lahir dalam keadaan lemah.
Lambang-Lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara
Dari uraian-uraian terdahulu telah disebut kan beberapa jenis perlengkapan upacara adat yang merupakan simbol tertentu dalam upacara tersebut, baik dalam bentuk nama, sifat, ataupun keadaan benda itu.
Tuvu mbuli adalah tumbuh-tumbuhan yang melambangkan sifat dan keadaan benda yang diidentifikasikan dengan kebabahagiaan rumpun keluarga, yaitu siranindi (daun si tawar dingin), sebagai simbol agar anak yang bakal lahir tetap tenang dan berpikiran dingin serta jernih sekalipun dalam suasana penuh tantangan. Sifat tumbuh-tumbuhan tersebut tahan hidup dalam keadaan musim kemarau. Suatu lambang dari suatu kehidupan yang tidak pernah susah. Kadombuku adalah semacam tumbuh-tumbuhan yang selain tahan musim kemarau juga berkembang biak melalui akar. Suatu simbol perkembangbiakan yang begitu cepat tanpa mengalami kesulitan.
Tinggora dan doke adalah simbol dari kekuatan/keberanian sebagai sifat dari sebuah besi dan senjata (tombak) melambangkan agar anak keras kemauan, kuat, dan berani. Piring adat adalah simbol kesejahteraan dan kecukupan pangan. Kain mesa adalah kain adat tenunan dari Sulawesi Selatan adalah simbol kebangsawanan seseorang yang diupacarakan.
Dula palangga (dulang berkaki) adalah salah satu perlengkapan upacara di mana benda-benda tersebut di atas diletakkan, adalah lambang dari simbol status seseorang bangsawan.

Pencorea


Pengertian upacara Pencorea bagi tradisi setempat adalah sebagai suatu tanda ucapan syukur bagi ibu dan bayi sejak ibu itu hamil sampai saat melahirkan bayinya dengan keadaan selamat. Di mana tahap-tahap upacaranya telah dilaksanakan dengan baik dan berjalan lancar tanpa adanya hambatan-hambatan yang dialaminya.
Maksud dan Tujuan Upacara
Maksud upacara adalah mencari keselamatan bagi yang diupacarakan, sehingga motivasi dari penyelenggaraan upacara sebelumnya mewarnai upacara ini. Maksud utamanya adalah sudah sampai di mana kaitan upacari sebelumnya, dengan upacara Pencorea yang merupakan penutup daripada upacara sebelumnya, sedangkan tujuannya adalah selain sebagai upacara syukur kepada Tuhan YME yang telah menyelamatkan ibu dan bayi sejak masa hamil sampai melahirkan.
Di dalam upacara ini terkandung pengertian bahwa secara tradisi mancore ini adalah membersihkan atau mensucikan ibu dan bayi dari semua gangguan roh jahat dan sekaligus menanggalkan peralatan dan perlengkapan yang mengandung nilai-nilai yang bersifat sakral seperti pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu si bayi sejak masa hamil sampai pada upacara Pencorea tersebut.
Waktu Penyelenggaraan Upacara
Upacara Pencorea diadakan pada pagi hari setelah genap tujuh malam umur bayi sesudah lahir. Perhitungan waktu pelaksanaan upacara berdasarkan pada tradisi yang berlaku setempat yakni bahwa hari ke tujuh adalah waktu paling baik serta mengandung makna yang berlatar belakang kepercayaan masyarakat bahwa keadaan bulan di langit sudah sempurna, sehingga semua kegiatan apapun akan mendapat suasana yang penuh keberhasilan.
Tempat Penyelenggaraan Upacara
Dalam pelaksanaan upacara tidak berdasarkan kepada sesuatu pertimbangan ataupun penentuan tertentu mengenai bentuk, keadam, ataupun suasana, tetapi upacara ini cukup dilaksanakan di tempat bayi dilahirkan (di rumah tempat tinggal orang tuanya).
Penyelenggaraan Teknis Upacara
Pada pelaksanaan upacara Pencorea (ucapan syukur) hanya ada seorang penyelenggara teknis upacara yakni topogane (pemantera) ataupun orang lain yang sudah banyak mengetahui hal ihwal upacara ini dan mempunyai sifat yang baik dan keturunan serta dingin tangan.
Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara
Di samping topogane sebagai penyelenggara teknis upacara maka pihak-pihak yang juga terlibat saat upacara adalah totua ngata (orang tua kampung), sando mpoana (dukun beranak) serta seluruh sanak keluarga yang diupacarakan. Masing-masing adalah sebagai motiroi (saksi) dan mobago (pembantu) dalam upacara tersebut.
Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Persiapan dan perlengkapan upacara pencorea ini masing-masing yang harus dipersiapkan adalah bengga (kerbau) bagi golongan bangsawan (maradika), sedangkan bagi golongan ntodea (orang kebanyakan) adalah ayam. Nasi ketan (pae pulu), taveka (daun pisang), dula palangka (dulang berkaki), ohe (beras), dan konia (nasi biasa).
Dalam hal ini dulang berkaki sebelum disajikan dalam upacara, terlebih dahulu ditaburi beras biasa, kemudian diberi lapisan daun pisang dan di atas daun diletakkan paha ayam bagian kanan, nasi biasa, nasi ketan yang kesemuanya sudah dimasak. Seperangkat dulang ini beserta isinya diperuntukkan kepada pemantera.
Jalannya Upacara Menurut Tahap-Tahapannya
Pencorea dilaksanakan mengikuti tahap-tahap tertentu, seperti pada saat yang telah ditentukan tiba, pemantera dan yang diupacarakan duduk pada tempat yang sudah dipersiapkan dalam rumah. Setelah masing-masing yang hadir duduk seluruhnyat, maka salah seorang keluarga yang terdekat mengangkat dulang yang sudah diisi ke depan pemantera dengan disaksikan oleh pihak keluarga yang diupacarakan. Penyajian dulang kepada pemantera adalah sebagai pertanda saat dimulainya upacara ini dan sebagai ucapan syukur itu pun dimulai.
Setelah dulang dan isinya diterima si pemantera, maka sambil berdiri dan diikuti oleh sang ibu yang masih memakai halili bulai (blus putih) melangkah turun ke bawah halaman rumah diiringi keluarganya bersama-sama menuju ke sungai untuk mencore (dimandikan).
Setelah seluruh peserta upacara tersebut, dukun (si pemantera), sang ibu, dan anggota keluarga berada di halaman rumah, mereka berjalan menuju sungai secara beriringan. Berjalan paling depan adalah topogane (dukun) yang disusul oleh ibu sang bayi, suami, dan lainnya. Dalam 1)er.ial~tilztii tidak diadakan upacara-upacara tertentu.
Sesudah mereka tiba di sungai, topogane dan ibu bayi turun ke air, di mana sang ibu berdiri menghadap ke hulu sungai dan di hadapan berdiri pula topogane.
Sebelum ibu sang bayi mandi untuk membersihkan diri, maka topogane terlebih dahulu mengambil air sungai itu dengan menggunakan tangan kanannya untuk membasahi/mengusapi ubun-ubun sang ibu sebanyak tiga kali berturut-turut.
Sesudah topogane melakukan hal ini, disuruhnya sang ibu untuk mandi, Ialu topogane naik ke darat bersama-sama keluarga yang mengiringinya tadi untuk menunggu selesainya mandi. Setelah selesai mandi, ibu lalu menaggalkan pakaiannya yang dipakai mandi termasuk halili bulai kkemudian menggantikannya dengan pakaian biasa yang dibawa bersamadari rumah.
Selanjutnya setelah selesai berpakaian maka si ibu kembali ke rumah dengan susunan perjalanan sama seperti semula dilakukan dari rumah ke sungai dan tidak ada upacara-upacara tertentu, seperti juga di rumall tidak ada upacara penjemputan terhadap yang diupacarakan dan langsung saja masuk ke dalam rumah serta duduk kembali pada tempat sebelumnya.
Pada saat yang diupacarakan duduk didampingi topogane dan suaminya kemudian salah seorang keluarga memberikan bayinya untuk ditidurkan. Setelah selesai menyerahkan bayi kepada ibunya, maka mulailah disajikan makanan yang telah dipersiapkan kepada yang hadir menyaksikan upacara tersebut untuk bersantap bersama.
Dalam penyajian makanan kepada topogane berbeda dengan yang disajikan kepada yang hadir. Dengan dulang serta isinya seperti ayam, ketan, dan lain-lain untuk topogane sebagai tanda terima kasih dan rasa syukur pihak keluarga atas terlaksananya upacara dengan baik dan selamat.
Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari
Beberapa pantangan tertentu yang harus dihindari bagi yang diupacarakan berupa perbuatan-perbuatan seperti bahwa halili bulai tidak boleh ditinggalkan sebelum upacara mencore dilaksanakan. Akibat yang timbul oleh si pelanggar ini ialah gangguan penyakit yang mengancam keselamatan ibu dan bayi.
Pantangan lain adalah sebelum upacara ini dilaksanakan sang ibu tidak boleh mencuci kepala dengan santan kelapa (moboka, sebagai akibat apabila pantangan ini dilanggar dapat memberi gangguan dari roh-roh halus karena sang ibu yang diupacarakan belum dimandikan (mencore). Demikian pula ibu tidak boleb makan buah yang bergantung atau jenis tumbuhan yang menjalar seperti ubi jalar, labu, dan sebagainya. Akibatnya adalah kepada bayi dapat mengalami penyakit yang berat dan mengalami penyakit kulit (gatal gatal).
Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara
Unsur-unsur yang berupa lambang dalam upacara pencorea .dan memiliki daya magis yang berpengaruh terhadap hidup manusia. Sebagai lambang keakraban menurut tradisi setempat dilambangkan dengan dula palangka (dulang berkaki) yang melambangkan rasa penghargaan dan penghormatan kepada yang mengupacarakan; sedangkan beras, nasi putih, nasi ketan, dan ayam putih adalah merupakan kesucian dan keihlasan hati keluarga yang melaksanakan upacara dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan perlindunganNYA sehingga upacara tersebut dapat berjalan dengan baik.
Makna lain daripada lambang ini adalah lambang kehidupan yang cerah bagi anak kelak di kemudian hari. Paha ayam (piri) putih sebelah kanan adalah lambang kekuatan dan kesehatan bagi ibu dan anak.

Popanaung (Upacara Turun Tanah)


Pengertian yang terkandung dalam upacara Popanaung (turun tanah) tidak berbeda dengan upacara naik ayunan. Secara tradisi setempat upacara ini merupakan sebagai rasa syukur orang tua dalam menerima kehadiran bayi dalam keluarga. Selain daripada itu Popanaung adalah salah satu jalan memperkenalkan bayi kepada kehidupan dunia luar sesudah berada dalam rahim ibunya.
Maksud dan Tujuan Upacara
Agar bayi dapat mengenal dan menerima kenyataan hidup dan tempat di mana ia dilahirkan. Pengertian ini berdasarkan kepada anggapan bahwa selamna ini bayi dalam rahim ibu merupakan dunia yang gelap dan diperkenalkan kepada dunia luar (fana).
Waktu Upacara
Penyelenggaraan upacara Popanaung (turtin tanah) mengikuti waktu sejak bayi itu lahir sampai pada hari kelima di mana upacaranya dilaksanakan pada waktu pagi hari.
Upacara Popanaung bagi bayi mengandung pula gambaran bahwa waktu pelaksanaannya pada pagi hari akan memberikan masa depan yang cerah bagi bayi dalam kehidupannya kelak.
Tempat Penyelenggaraan Upacara
Mengenai tempat penyelenggaraan upacara tidak ada ketentuan mengenai tempat upacara. Kebiasaan bahwa tempat penyelenggaraan adalah di rumah orang tua bayi. Kecuali apabila keadaan rumah orang tua yang diupacarakan tidak mengizinkan (dalam keadaan rusak), maka upacara ini dilaksanakan di rumah salah satu pihak orang tua dari keluarga yang diupacarakan (ayah, mertua).
Penyelenggaraan Teknis Upacara
Sebagai penyelenggara teknis upacara sama haInya dengan upacara Ratoe (naik ayunan) dimana penyelenggara teknis adalah sando mpoana (dukun beranak), sehingga peranan dukun beranak sangat besar artinya baik dalam membantu ibu dalam melahirkan maupun dalam melakukan upacara Popanaung ini.
Pihak-pihak yang Terlibat dalam Upacara.
Di samping sando (dukun) sebagai penyelenggara teknis upacara, masih ada mobago (pembantu) yakni seorang yang membantu dukun dalam upacara ini apabila upacara puncak dilaksanakan. Selain pihak keluarga yang terdekat dengan yang diupacarakan, yang semuanya adalah motivoi (saksi) dalam upacara tersebut.
Persiapan-persiapan dan Perlengkapan Upacara
Sebelum tiba pada pelaksanaan upacara telah disiapkan perlengkapan upacara agar dapat terlaksana dengan baik sesuai tradisi setempat. Dalam upacara nopanaung memerlukan persiapan dan perlengkapan upacara seperti kain nunu (kain kulit kayu beringin), ide (tikar), tavala (tombak), guma (parang), kaliavo (perisai), kawipi (bakul) tempat beras, karar (bakul kecil), vatu pengaha (batu asa).
Dari pelbagai persiapan dan perlengkapan tersebut dapat dibagi dua bagian menurut keperluannya masing-masing. Untuk perlengkapan di dalam rumah berupa kain nunu, tikar, baku, sedangkan untuk di luar rumah adalah tombak, parang, kain pengikat kepala (halili), dan perisai.
Jalannya Upacara Menurut Tahap-tahapnya
Dalam upacara nompanaung tahap-tahapnya dapat dilihat perbedaannya pada perlengkapan upacara dan merupakan simbol yang membedakan antara bayi laki-laki dan perempuan yang diupacarakan.
Sebelum puncak upacara dilaksanakan pada pagi hari, biasanya di rumah yang akan mengadakan upacara, pada sore hari menjelang keesokan harinya upacara itu dilaksanakan, maka pihak keluarga sudah memasangkan simbol-simbol upacara di muka tangga rumah atau pada halaman rumah. Maksudnya adalah untuk membedakan jenis kelamin bayi yang akan diupacarakan di rumah tertentu. Bagi bayi perempuan simboInya adalah di depan rumah yang diupacarakan sudah digantungkan pada kayu ujung atas atap rumah, yaitu tavala (tombak) dengan cara melintang serta bagian tengah tombak diikatkan higa (mahkota) yang biasa dipakai sebagai mahkota di kepala wanita dalam pakaian adat masyarakat Kulawi.
Perlengkapan tombak dan mahkota tersebut digantung oleh orang tua yang diupacarakan dan harus nampak terlihat bagi orang yang lewat di depan rumah tersebut, sehingga orang pun dapat mengetahui bahwa di rumah tersebut akan dilaksanakan upacara turun tanah.
Di samping menggantung perlengkapan tersebut sekaligus pemasangan vatu pengaha (batu asa) di depan tangga rumah yang akan diinjak oleh bayi pada upacara turun tanah. Sesudah semua perlengkapan ini dipasang semuanya maka tangga depan rumah tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk naik turun rumah sebelum upacara nopanaung ini selesai. Jadi, keluarga yang biasanya menggunakan tangga itu untuk Ialu-Ialang harus melalui tangga rumah bagian dapur.
Ketika saatnya telah tiba dimana dukun telah datang ke rumah yang di upacarakan Ialu mempersiapkan seluruh perlengkapan upacara di tempat yang telah tersedia, sambil menunggu bayi dimandikan oleh ibunya, semua alat perlengkapan upacara sudah disiapkan.
Sesudah bayi dimandikan Ialu diselimuti/dibungkus dengan kain nunu dan ditidurkan di atas tikar yang khususkan untuk upacara turun tanah, didekatkan bayi itu pada dukun. Dukun pun Ialu mengambil bakul beras dan dengan hati-hati sekali dukun mengangkat bayi Ialu dimasukkan ke dalam bakul.
Hal ini hanya berlaku bagi bayi perempuan, setelah bayi sudah berada di dalam bakul, maka dukun berdiri disertai mobago (pembantunya) sambil membopong bayi dalam bakul dan diiringi keluarga yang masing-masing membawa sube (pacul kecil), kararo (bakul kecil) masing-masing berjalan, di depan sekali adalah dukun kemudian pembantu dukun dan keluarga yang diupacarakan menuju ke depan pintu. Setelah tiba di depan pintu dan berhenti sejenak, maka dukun pun Ialu turun melalui tangga sampai anak tangga terakhir, sedangkan pembantu dukun yang membopong bayi dan masing-masing keluarga yang diupacarakan yang membawa perlengkapan lainnya tetap berada di atas rumah berdiri di depan pintu.
Dengan isyarat dari dukun yang sudah berada pada anak tangga terakhir maka pembantu dukun mulai menurunkan bayi dalam bakul secara turun naik sebanyak tujuh kali berturut-turut. Setelah sampai pada hitungan yang ketujuh sesudah turun, maka dukun pun mengeluarkan bayi dari bakul dan dengan memegang kedua kaki bayi Ialu diinjakkan pada batu asa, dukun mulai nogane (membaca manteranya) sebagai berikut:
matua pa tanuana na ngana ei mai pade vatu “, Artinya: “kepala anak ini hendaknya lebih keras dari batu”.
Sesudah bayi diinjakkan kedua kakinya pada batu, maka dukun dengan menggendong bayi naik kembali ke dalam rumah, sambil diiringi pembantunya dan keluarga yang diupacarakan untuk menyimpan kembali perlengkapan upacara pada tempat semula dan bayi langsung dinaikkan kembali ke ayunannya.
Sesudah upacara turun tanah selesai, maka upacara ini pun telah selesai bagi bayi perempuan.
Bagi upacara Popanaung untuk bayi laki-laki agak berbeda sedikit mengenai pelaksanaan upacaranya. Mengenai sebelum waktu upacara turun tanah untuk bayi perempuan sama pelaksanaannya dengan bayi laki-laki, kecuali perlengkapan yang digunakan untuk bayi laki-laki berbeda dengan bayi perempuan.
Sebelum upacara puncak keesokan harinya, maka pada sore hari di muka tangga rumah yang diupacarakan dipancangkan tovala (tombak), guma (parang), dan perisai (kaliavo). Pemancangan perlengkapan tersebut di atas di depan tangga rumah yang diupacarakan sebagai simbol bahwa di rumah tersebut berlangsung upacara turun tanah. Tentang tata upacaranya pun sama yang melaksanakan teknis upacaranya sama pula, kecuali bahwa bagi bayi laki-laki pada saat turun tanah tidak menggunakan lagi bakul untuk tempat bayi perempuan bila diturunkan ke tanah. Susunan upacara pada saat turun adalah sama yakni bahwa pada hitungan yang ke tujuh setelah turun kemudian dukun menginjakkan kedua kainya pada batu asah yang telah disediakan di halaman rumah yang diupacarakan. Sesudah upacara turun tanah ini dilaksanakan bagi bayi laki-laki, maka upacara ini pun dinyatakan berakhir, kemudian dilanjutkan dengan upacara makan bersama di antara keluarga yang hadir dan dukun.
Pantangan-pantangan yang Harus Dihindari
Tujuan penyelenggaman upacara menurut tradisi setempat adalah mencari keselamatan bagi keluarga yang terlibat dalam upacara ini, terutama sekali bagi bayi yang diupacarakan.
Dalam pelaksanaan upacara ini didapati pantangan-pantangan yang harus dihindari berupa perbuatan-perbuatan terhadap bayi. Sejak memakaikan halili bulai pada saat kehamilan sampai pada upacara turun tanah, halili ini tidak boleh ditanggalkan sebelum upacara mencore (memandikan) sang ibu selesai dilaksanakan. Akibat yang ditimbulkan bila pantangan ini dilanggar adalah baik ibu maupun bayi selalu mengalami keadaan tidak sehat (mengalami sakit-sakitan) yang sering dapat menimbulkan kematian bagi bayi. Bagi ibu pada saat upacara nupanaung tidak boleh moboka (mencuci kepala dengan santan kelapa), akibatnya adalah bagi ibu muda mendapat gangguan dari roh-roh jahat karena bau santan kelapa atau ampas kelapa paling disukai oleh roh-roh yang jahat tersebut. Demikian beberapa pantangan yang harus dihindari.
Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara.
Daya magis yang berpengaruh berupa lambang dalam upacara nupanaung terhadap kehidupan bayi adalah seperti kain nunu sebagai perlambang bagi yang diupacarakan, sedangkan tikar, bakul, cangkul kecil bagi bayi perempuan sebagai lambang bilamana kelak sesudah ia dewasa dan telah memasuki masa perkawinannya sampai mempunyai keturunan hingga tiba saat ditinggal mati oleh suaminya, maka satu-satunya teman dalam membina hidup dan kehidupannya adalah cangkul kecil untuk membersihkan ladang dan bekerja di sawah, sedangkan bakul adalah merupakan tempat menyimpan hasil panen.
Bagi bayi laki-laki dengan tombak, parang, dan perisai merupakan lambang yang mengandung arti babwa satu-satunya teman di dalam menjaga keselamatan dirinya dan mempertahankan harta bendanya kelak adalah alat-alat tersebut. Selain alat tersebut, juga merupakan lambang keberanian dan kepahlawan bagi yang diupacarakan kelak.

Ratini / Mancumani Noratini


Pada masyarakat Kulawi upacara yang berlangsung pada masa ini terdiri atas beberapa jenis upacara selamatan tradisional yang disebut mancumani antara lain : Mancumani Noratini, Mancumani Ratompo, Mancumani Rakeho, Upacara Penutupan. Dari semua upacara masa ini yang disebut dengan Upacara Mancumani saja. Keempat jenis upacara tersebut secara terpisah diuraikan berturut-turut di bawah ini.
Pengertian upacara ini adalah membersihkan alat kelamin. Upacara ini menurut tradisi setempat hanya bagi laki-laki yang telah mulai memasuki alam kedewasaan. Bagi anak perempuan upacara ini tidak diadakan. Dengan kata lain bahwa upacara ini dilaksanakan apabila yang diupacarakan itu sudah benar-benar telah memasuki alam kedewasaan. Tujuan dan maksudnya dari upacara Ratini adalah sudah merupakan suatu tradisi setempat bila seseorang anak telah menjelang dewasa, juga merupakan motivasi yang mendorong penyelenggaraan upacara ini bahwa anak sesudah diratini sudah meninggalkan sifat-sifat kekanak-kanakan dan telah mempunyai sifat-sifat malu. Juga adanya anggapan masyarakat setempat bahwa setelah anak dikhitan maka mulailah belajar memakai hirita (cawat).

Taman Nasional Lore Lindu

Selasa, 01 Maret 2011

Taman Nasional Lore Lindu memiliki berbagai tipe ekosistem yaitu hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan sampai hutan dengan komposisi jenis yang berbeda.
Tumbuhan yang dapat dijumpai di hutan pamah tropika dan pegunungan bawah antara lain Eucalyptus deglupta, Pterospermum celebicum, Cananga odorata, Gnetum gnemon, Castanopsis argentea, Agathis philippinensis, Philoclados hypophyllus, tumbuhan obat, dan rotan.
Hutan sub-alpin di taman nasional ini berada diatas ketinggian 2.000 meter dpl. Keadaan hutannya sering diselimuti kabut, dan sebagian besar pohonnya kerdil-kerdil yang ditumbuhi lumut.

Di dalam kawasan taman nasional terdapat berbagai ragam satwa yaitu 117 jenis mamalia, 88 jenis burung, 29 jenis reptilia, dan 19 jenis amfibia. Lebih dari 50 persen satwa yang terdapat di kawasan ini merupakan endemik Sulawesi diantaranya kera tonkean (Macaca tonkeana tonkeana), babi rusa (Babyrousa babyrussa celebensis), tangkasi (Tarsius diannae dan T. pumilus), kuskus (Ailurops ursinus furvus dan Strigocuscus celebensis callenfelsi), maleo (Macrocephalon maleo), katak Sulawesi (Bufo celebensis), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), tikus Sulawesi (Rattus celebensis), kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), ular emas (Elaphe erythrura), dan ikan endemik yang berada di Danau Lindu (Xenopoecilus sarasinorum).
Disamping kekayaan dan keunikan sumberdaya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus dan merupakan salah satu monumen megalitik terbaik di Indonesia.
Taman Nasional Lore Lindu mendapat dukungan bantuan teknis internasional, dengan ditetapkannya sebagai Cagar Biosfir oleh UNESCO pada tahun 1977.


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Lembah Besoa.
Melihat habitat maleo, megalit dan rekreasi.
Danau Lindu, Gimpu, Wuasa, Bada. Danau, bersampan dan pengamatan satwa burung.
Lembah Saluki, Lembah Bada, Lembah Napu. Melihat berbagai batu megalit.
Gunung Nokilalaki, Gunung Rorekatimbo, Sungai Lariang. Pendakian dan berkemah serta arung jeram.
Danau Lewuto. Danau dan melihat peninggalan mayat Moradino.
Dongi-dongi, Kamarora. Berkemah, air panas, lintas hutan, pengamatan satwa.
Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Poso pada bulan Agustus.

Musim kunjungan terbaik: bulan Juli s/d September setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Dapat dicapai dengan kendaraan roda empat: Palu-Kamarora (50 km) dengan waktu tempuh 2,5 jam, Palu-Wuasa (100 km) lima jam dan Wuasa-Besoa (50 km) empat jam. Palu- Kulawi (80 km) enam jam. Perjalanan di dalam kawasan dapat dilakukan dengan jalan kaki ataupun dengan naik kuda dengan route : Gimpu-Besoa-Bada selama tiga hari dan Saluki (Sidaonta) – Danau Lindu selama satu hari.

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
luas 231.000 hektar
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 593/Kpts-II/1993
luas 229.000 hektar
Ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 646/Kpts-II/1999
luas 217.991,18 hektar
Letak Kab. Donggala dan Kab. Poso,
Provinsi Sulawesi Tengah
Temperatur udara 22° - 34° C
Curah hujan 2.000 - 3.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 500 – 2.600 meter dpl
Letak geografis 1°03’ - 1°58’ LS, 119°57’ - 120°22’ BT

 

Banua Mbaso, Situs Sejarah di Tanah Kaili, Palu


Banua Mbaso merupakan tempat wisata sejarah di Tana Kaili yang terdapat ditengah pusat kota Kaledo (Palu), Sulawesi Tengah, Kecamatan Palu Selatan.
Banua Mbaso atau lebih sering disebut Sou Raja (bahasa daerah kaili berarti Rumah Besar atau Pondok Raja), didirikan sekitar 115 tahun silam dengan ukuran 32x11,5 meter.
Dan rumah besar itu dibangun oleh Raja Palu Jodjokodi sekitar 1892, dan merupakan tempat tinggal sang Raja beserta keluarganya, sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada waktu tersebut.
Rumah panggung berbentuk pelana ini merupakan paduan arsitektur gaya Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, dimana memiliki 28 buah tiang penyangga rumah bagian induk dan gandaria (Teras) serta 8 buah tiang bagian dapur.

TAMAN WISATA ALAM AIR TERJUN WERA ,Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

Kamis, 24 Februari 2011


air terjun wera 1. STATUS
Taman Wisata Wera berdasarkan Sk. Menteri Pertanian No. 843/Kpts/Um/11/1980 tanggal 11 Januari 1980 dengan luas ± 250 hA. Kawasan ini termasuk dalam kelompok hutan Wera (hutan lindung Wera) dan memilik potensi wisata yang besar berupa panorama alam yang indah dan Air Terjun Wera,

2. FISIK
Letak
menurut administrasi pemerintahan termasuk di dalam wilayah Desa Balumpewa, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah.
Geografis
secara geografis kawasan Taman Wisata Wera terletak antara 1°2′-1°3′ LS dan antara 119° 50′ – 119° 51′ BT,

Batas Kawasan
Batas sebelah Utara : Daerah perbukitan sepanjang wilayah Dusun Ngatapapu.
Batas sebelah Timur : Batas Hutan Lindung Wera yang berbatasan langsung dengan lokasi Asrama Yayasan Misi Masyarakat di Pedalaman (YMMP).
Batas sebelah Barat : Dusun Ngatapapu memotong hulu Sungai Wera.
Batas sebelah Selatan : Kawasan hutan perbukitan sebelah selatan sungai Wera.

Topografi :
Wilayah Sulawesi Tengah sebagian besar merupakan Daerah pegunungan dan perbukitan diselingi oleh lembah-lembah, sungai dan dataran tinggi. Kawasan Taman Wisata Wera sebagian besar merupakan daerah perbukitan dengan kondisi topografi pada umumnya berlereng sampai terjal dengan kemiringan antgara 60% s/d 95% terdapat lembah yang sempit yang merupakan aliran sungai Wera yang agak datar terdapat pada bagian bawah disekitar desa Balumpewa dengan ketinggian dari permukaan laut 150 m s/d 800 m dpl.

Geologi dan Tanah
air terjun wera sigiBerdasarkan Peta Geologi Indonesia dari Direktorat Geologi Indonesia (1965) dan peta Tanah Tinjau LPT (1966), formasi geologi Taman Wisata Wera termasuk batuan sedimen marin, aluvium induk dan terumbu koral. Jenis tanahnya : alluvial dan potselik dengan bahan endapan musolium tanah cukup dalam, tekstur lempung sampai liat, sering berlapis-lapis debu dan pasir.

Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson kawasan Taman Wisata Wera termasuk dalam tipe B, dengan nilai Q= 0,213. dengan curah hujan rata-rata setahun 1.589 mm/tahun.

Hidrologi
Kawasan Taman Wisata Wera ini dialiri oleh satu sungai utama yaityu sungai Wera, Pada bagian hulu terdapat dua buah anak sungai yang mengalir masuk dan membentuk sungai Wera. Sungai ini mengalir melalui celah yang terjal pada celah-celah perbukitan yang curam dan membentuk jeram (terjunan) setinggi ± 80 m. Pada bagian bawah yang agak datar sungai Wera mengalir ke arah Timur ke Desa Kaleke dan sekitarnya. Karena melalui aliran yang terjal dan berbatu-batu, sungai ini tidak begitu lebar (hanya sekitar 2-3 m) dengan kedalaman kurang dari 50 cm.

3. BIOLOGI
Potensi Flora
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan hasil inventarisasi flora dan fauna yang pernah dilaksanakan sebelumnya, kawasan Taman Wisata Wera ini termasuk daerah yang kritis dengan lereng yang curam serta labil dengan kondisi vegetasi penutup tanah yang relatif kecil: sebagian besar permukaan tanah ditumbuhi padang rumput dan semak-semak/hutan sekunder. Bagian yang agak nerhutan terdapat pada celah bukit dan lembah disekitar sungai Wera. Keadaan vegetasi di kawasan ini relatif jarang terutama dari kondisi hutan yang sebagian besar semak belukar dan hutan sekunder (Tua).
Hanya pada bagian lereng yang terjal pada sekitar 50 – 100 m pada kiri kanan alur sungai yang masih tertutup hutan yang utuh, termasuk pada bagian hulu yang kondisi medannya juga terjal. Hal ini menyebabkan sampai saat ini aliran sungai Wera relatif masih baik dan mengalir sepajang tahun, karena baik alirannya maupun daerah tangkapan air di daerah hulu relatif masih baik (karena kondisi alam yang sulit sehingga tidak dapat dirambah/diganggu). Walaupun demikian, pada bagian lain relatif datar (pada gunung dan puncak bukit) kondisi hutannya sudah terganggu. Hal ini disebabkan adanya kegiatan masyarakat yang telah lama bermukim di sekitar kawasan yang masih mempraktekkan perladangan berpindah yaitu masyarakat Dusun Kaluku Tinggu dan dari desa Balumpewa yang masih membuka ladang pada daerah perbukitan di sekitarkawasan Taman Wisata ini.
Kondisi pada bagian timur sungai Wera sebagian besar ditumbuhi vegetasi rumput ( ± 80 % ) dan lainnya adalah semak belukar. Pada bagian barat kawasan lebih banyak ditemui hutan sekunder ( 90 % ) dan pada bagian kiri kanan sungai Wera kondisi hutannya masih baik.
Jenis pohon yang mendominasi kawasan Taman Wisata Wera masing-masing adalah : Avicenia marina, Drypetes sp., Semecarpus sp., Pterospermum ferrugineum, Litsea sp. dan Dracontomelon mangiferrumn. Selain itu pada bagian Utara kawasan yang sudah terbuka, telah ditanami jenis pohon pinus (Pinus merkussi) dalam upaya reboisasi lahan kritis di daerah perbukitan yang mulai gundul.

Potensi Fauna
weraJenis satwa yang dapat dijumpai di kawasan Taman Wisata Wera relatif sedikit, hanya beberapa jenis mamalia, aves dan serangga yaitu antara lain : Monyet hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Kus-kus (Phalanger ursinus), Tarsius (Tarsius spectrum), Burung kasuari, Gagak (Aceros cassidix), Ayam hutan (Gallus-gallus) dan beberapa jenis kupu-kupu.
Keberadaan satwa yang relatif kurang ini disebabkan oleh kondisi habitat yang sudah terganggu dan gangguan masyarakat sekitar yang masih berburu dan melintasi kawasan ini.

4. WISATA
Potensi Obyek Wisata
Obyek wisata di Taman Wisata Wera yang menarik diantaranya ; menikmati panorama air terjun Wera yang dapat dilihat dari dua sisi yaitu wera atas (puncak) dan dari bawah (tempat jatuhnya air). Air terjun Wera dengan ketinggian terjunan ± 80 m dengan kemiringan terjun antara 70° – 80° manakala kita berada disekitar tempat jatuhnya air menyuguhkan pemandangan yang indah. Selain itu atraksi Hiking (mendaki gunung) dari arah Utara batas kawasan ke puncak bukit sebelah Barat. Pada umumnyha obyek wisata sesuai potensi yang dimiliki di kawasan Taman Wisata Wera ini masih baik bahkan dapat dikatakan masih alamiah.

5. PENGELOLAAN
Aksesibilitas
Kawasan Taman Wisata Wera terletak ± 20 km sebelah selatan Kota Palu, Kawasan ini relatif dekat dan mudah dijangkau karena telah ada jalan raya beraspal yang menghubungkan Kota Palu dengan desa-desa disekitarnya. Untuk mencapai kawasan ini pengunjung dapat naik kendaraan umum (minibus) dari Terminal Petobo Palu, atau kendaraan pribadi dengan rute:  Palu – Rarampadende – Balumpewa) perjalanan ke lokasi ini hanya membutuhkan waktu ± 30 menit.